Koorders, Ahli Botani yang Namanya Abadi di Tengah Cagar Alam Nusa Gede

JAKARTA | Priangan.com – “Gunung teu beunang dilebur, lebak teu beunang diruksak, larangan teu beunang dirempak, buyut teu beunang dirobah, layar teu beunang dipotong, pondok teu beunang disambung.” Pepatah Sunda itu hidup turun-temurun di Panjalu, Ciamis, sebagai penanda batas hubungan manusia dengan alam.

Pepatah ini menegaskan bahwa gunung tidak boleh digunduli, lembah tidak boleh dirusak, larangan adat tidak boleh dilanggar, serta tatanan yang telah ada tidak semestinya diubah sembarangan. Nilai tersebut bukan sekadar nasihat moral, melainkan cara masyarakat menjaga keseimbangan lingkungan agar tetap lestari lintas generasi.

Nilai yang sama pula yang membuat sebuah pulau kecil di tengah Situ Lengkong bertahan hingga hari ini. Pulau itu bernama Nusa Gede, hutan primer seluas sekitar 16 hektare yang berada di tengah danau seluas kurang lebih 70 hektare. Meski ukurannya relatif kecil, kawasan ini menyimpan arti penting, bukan hanya bagi masyarakat Panjalu, tetapi juga dalam sejarah awal konservasi alam di Indonesia.

Pada 16 November 1921, pemerintah kolonial Hindia Belanda menetapkan Nusa Gede sebagai kawasan cagar alam melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Nomor 60 Staatsblad 1921 Nomor 683. Sejak saat itu, kawasan ini kerap disebut sebagai Cagar Alam Koorders, merujuk pada nama Sijfert Hendrik Koorders, seorang ahli botani yang dikenal sebagai pelopor perlindungan alam di Hindia Belanda.

Secara administratif, kawasan tersebut hingga kini tetap bernama Cagar Alam Nusa Gede Panjalu, sementara nama Koorders hidup dalam catatan sejarah dan literatur konservasi.

Nusa Gede tidak dapat dilepaskan dari sejarah Kerajaan Panjalu, kerajaan Sunda yang berkembang di wilayah Ciamis pada kisaran abad ke-13 hingga ke-16 Masehi. Di pulau ini terdapat makam petilasan Prabu Sanghyang Borosngora atau yang dikenal sebagai Syekh Panjalu, serta makam Prabu Hariang Kencana dan Sayyid Ali bin Muhammad bin Umar.

Keberadaan situs-situs tersebut menjadikan Nusa Gede sebagai ruang yang memadukan fungsi ekologis, sejarah, dan spiritual. Aturan adat atau pamali yang dijaga masyarakat Panjalu selama ratusan tahun berperan besar dalam menjaga keutuhan pulau ini, bahkan jauh sebelum status cagar alam ditetapkan secara resmi oleh pemerintah kolonial.

Lihat Juga :  Aztec, Suku Asli Amerika yang Punya Banyak Ritual Ekstrem

Nama Koorders yang diabadikan pada Nusa Gede membawa cerita yang melampaui Panjalu. Sijfert Hendrik Koorders lahir di Bandung pada 29 November 1863 dari pasangan Daniels Koorders dan Maria Henriette Boeke. Ia kehilangan ayahnya pada usia enam tahun dan kemudian kembali ke Belanda bersama sang ibu. Maria berharap Koorders kelak menjadi pendeta, mengikuti latar belakang teologis keluarganya.

Namun, ketertarikan Koorders justru tumbuh di jalur yang berbeda. Saat tinggal di Haarlem, ia kerap menghabiskan waktu di taman hutan kota yang baru diresmikan. Dari ruang hijau itulah kecintaannya pada pepohonan dan alam mulai terbentuk. Minat tersebut membawanya menempuh pendidikan kehutanan di Jerman, satu-satunya negara di Eropa yang saat itu memiliki sistem pendidikan kehutanan modern. Selama lima tahun, Koorders belajar di Akademi Kerajaan Prusia di Neustadt Eberswalde, Berlin.

Lihat Juga :  Aztec, Suku Asli Amerika yang Punya Banyak Ritual Ekstrem

Setelah menyelesaikan pendidikan, Koorders melamar bekerja di Kementerian Negara Jajahan Belanda pada 1884. Ia sempat menjalani studi singkat di Universitas Tübingen, Stuttgart, serta Sekolah Pertanian Negara di Wageningen. Tak lama kemudian, ia dikirim ke Hindia Belanda dan ditempatkan di Kebun Raya Bogor, yang kala itu dikenal sebagai Lands Plantentuin te Buitenzorg.

Seperti dikutip DetikX melalui keterangan Pandji Yudistira Kusumasumantri, purnakarya Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Koorders memulai kariernya sebagai houtvester atau pejabat kehutanan dengan perhatian besar pada dunia botani. Hampir 31 tahun ia mengabdikan diri pada penelitian kehutanan dan botani di Nusantara.

Koorders melakukan perjalanan ilmiah ke berbagai wilayah, mulai dari Jawa, Sumatra Barat dan Utara, Kalimantan, Sulawesi Utara, hingga Nusa Tenggara Timur. Dari perjalanan tersebut lahir sejumlah karya penting, termasuk laporan botani setebal sekitar 700 halaman mengenai flora Sumatra dan Sulawesi.

Bersama Th. Valeton, Koorders menerbitkan 13 jilid buku berjudul Bijdragen tot de Kennis der Boomsoorten van Java, yang hingga kini menjadi rujukan utama tentang jenis-jenis pohon di Jawa. Ia juga menulis Flora von Cibodas, yang memuat dokumentasi 766 jenis tumbuhan berbunga di sekitar Gunung Gede dan menarik perhatian para ahli botani di Eropa.

Lihat Juga :  Ketika Ekonomi Asia Diguncang Krismon 1998

Selain karya tulis, Koorders meninggalkan warisan ilmiah berupa koleksi spesimen tumbuhan dalam jumlah besar. Koleksi tersebut kini tersimpan di Herbarium Koordersianum, Kebun Raya Bogor, dengan jumlah sekitar 48.012 nomor dan kurang lebih 150 ribu spesimen. Koleksi ini mencakup ranting, tunas, daun, bunga, kayu, kulit kayu, hingga buah yang diawetkan dalam cairan alkohol.

Namun, selama bertugas di Hindia Belanda, Koorders juga menyaksikan langsung sisi gelap eksploitasi alam. Ia melihat hutan-hutan rusak akibat pembalakan dan perburuan satwa liar yang tidak terkendali. Perburuan burung cenderawasih dan pembunuhan badak Jawa bercula satu di kawasan Ujung Kulon sejak akhir abad ke-19 menjadi contoh nyata ancaman terhadap kekayaan hayati Nusantara.

Kegelisahan tersebut mendorong Koorders melangkah ke ranah advokasi. Pada 12 Juli 1912, ia bersama sejumlah pakar biologi, kimia, dan botani mendirikan Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming). Dari seluruh anggota perkumpulan yang mayoritas orang Eropa, hanya satu pribumi yang terlibat, yakni Pangeran Poerboatmodjo, tokoh yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap konservasi air.

Perjuangan mereka membuahkan hasil dengan disahkannya Undang-Undang Cagar Alam (Natuurmonumenten Ordonantie) pada 1916, yang menjadi dasar hukum perlindungan kawasan konservasi di Hindia Belanda.

Koorders wafat pada 16 November 1919 akibat sakit paru-paru di Rumah Sakit Cikini, Jakarta, dalam usia 56 tahun. Kepergiannya mengejutkan kalangan kehutanan dan ilmuwan, khususnya di Kebun Raya Bogor. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan iktikad baiknya dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta pelestarian alam, pemerintah Hindia Belanda kemudian mengabadikan namanya pada Cagar Alam Nusa Gede di Panjalu. (LSA)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos