TASIKMALAYA | Priangan.com – Dampak eskalasi konflik di Timur Tengah mulai terasa hingga ke daerah. Per 1 Maret 2026, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi di berbagai wilayah, termasuk Jawa Barat. Kenaikan paling mencolok terjadi pada Pertamina Dex yang kini menembus Rp14.500 per liter.
Pantauan di sejumlah SPBU di Kota Tasikmalaya menunjukkan tarif baru sudah diberlakukan sejak awal bulan. Harga pada dispenser berubah setelah instruksi resmi dari pusat diterima.
“Benar, ada kenaikan mulai 1 Maret, terutama untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex,” ujar Junaedi, petugas operasional SPBU di Tasikmalaya, Rabu (4/3/2026).
Di wilayah Jawa Barat, Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp12.300 per liter dari sebelumnya Rp11.800. Pertamax Turbo kini Rp13.100, sementara Pertamax Green 95 berada di angka Rp12.900 per liter.
Kenaikan paling tajam terjadi pada solar nonsubsidi. Pertamina Dex (CN 53) melonjak Rp1.000 menjadi Rp14.500 per liter. Dexlite juga naik dari Rp13.250 menjadi Rp14.200 per liter. Lonjakan di sektor diesel diprediksi berdampak pada ongkos distribusi dan logistik di Priangan Timur.
Penyesuaian harga ini disebut mengikuti tren global. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak tajam, dipicu kekhawatiran gangguan pasokan setelah isu penutupan Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak global.
Meski BBM nonsubsidi naik, harga BBM bersubsidi masih bertahan. Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Di lapangan, situasi SPBU di Kota Tasikmalaya terpantau normal. Tidak ada lonjakan antrean, meski sebagian pengendara mengaku terkejut melihat harga baru.
Kenaikan harga BBM Maret 2026 ini menjadi sinyal kuat bahwa gejolak global kini langsung berdampak ke level daerah, termasuk Tasikmalaya. (ham)

















