WASHINGTON | Priangan.com — Pemerintah Amerika Serikat menyatakan telah membawa Presiden Venezuela Nicolás Maduro keluar dari negaranya menyusul operasi militer yang diklaim menyasar pusat kekuasaan di Caracas. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump pada Sabtu, 3 Januari 2026, dan segera memicu ketegangan baru di kawasan Amerika Latin.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menulis bahwa operasi tersebut berjalan “berhasil” dan melibatkan aparat penegak hukum Amerika Serikat. Ia menyebut Maduro dan istrinya telah berada di bawah kendali AS, sembari menjanjikan penjelasan lebih rinci dalam konferensi pers yang akan digelar di Florida. Hingga kini, Gedung Putih belum merilis keterangan resmi terperinci mengenai lokasi penahanan maupun dasar hukum operasi tersebut.
Sejumlah media di Amerika Serikat melaporkan bahwa misi itu diduga melibatkan unit elite Delta Force. Informasi tersebut dikutip dari pejabat pemerintah yang tidak bersedia disebutkan namanya. Delta Force dikenal pernah terlibat dalam operasi penangkapan mantan pemimpin Panama Manuel Noriega pada 1989 serta misi terhadap pimpinan ISIS pada 2019, meski otoritas AS belum mengonfirmasi keterlibatan unit tersebut dalam kasus Venezuela.
Dalam wawancara terpisah, Trump menyebut operasi itu sebagai hasil perencanaan jangka panjang dan menekankan peran pasukan Amerika sebagai penentu keberhasilan. Pemerintah AS mengklaim tidak ada korban dari pihaknya, namun menolak memberikan rincian mengenai dampak di Venezuela, termasuk kemungkinan korban sipil atau aparat setempat.
Dari Caracas, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menyatakan pemerintahnya tidak mengetahui keberadaan Maduro. Ia menuntut Washington membuktikan bahwa presiden Venezuela masih hidup dan benar-benar berada dalam tahanan AS. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya spekulasi dan ketidakpastian di dalam negeri Venezuela.
Hubungan Washington dan Caracas memang telah lama berada pada titik beku. Amerika Serikat berulang kali menuduh pemerintahan Maduro terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba internasional. Tuduhan itu selalu dibantah oleh Maduro, yang menilai kebijakan AS sebagai upaya sistematis untuk menggulingkan pemerintahannya.
Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan AS terhadap Venezuela mengambil berbagai bentuk, mulai dari sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, hingga operasi intelijen. Pada Oktober lalu, Trump secara terbuka mengakui telah memberi persetujuan bagi aktivitas CIA di Venezuela, pernyataan yang kala itu memicu kecaman keras dari pemerintah Maduro.
Klaim terbaru Gedung Putih ini berpotensi memperlebar krisis regional dan menimbulkan konsekuensi geopolitik yang signifikan. Hingga Sabtu malam waktu setempat, belum ada konfirmasi independen mengenai nasib Nicolás Maduro, sementara komunitas internasional menunggu kejelasan atas pernyataan yang mengguncang hubungan antarnegara di benua Amerika tersebut. (Zia)

















