BOYOLALI | Priangan.com – Nama Suali Dwijosukanto tercatat dalam lembatan sejarah Boyolali sebagai bupati yang bernasib tragis. Ia menjabat pada penghujung tahun 1950-an hingga pertengah 1960-an, sebelum akhirnya terseret dalam pusaran politik yang serius.
Suali berasal dari latar belakang pendidikan. Sebelum terjun ke pemerintahan, ia dikenal sebagai guru dan aktif dalam organisasi politik yang mengantarkannya menduduki kursi bupati. Pada masa itu, ia tercatat memiliki kedekatan dengan Partai Komunis Indonesia. Pilihan politik inilah yang kemudian membawanya pada akhir hidup yang getir.
Semuanya bermula ketika peristiwa 30 September 1965 pecah. Gelombang penangkapan terhadap tokoh-tokoh yang dianggap terkait dengan PKI meluas hingga ke daerah, termasuk Boyolali. Suali yang sejak dulu dikenal dekat dengan PKI lalu dicopot dari jabatannya. Tak hanya itu, ia juga ditangkap oleh militer dan ditahan. Pasca dilakukan penahanan selama beberapa waktu, Suali dieksekusi.
Ada beberapa versi terkait tempat eksekusi Suali. Sebagian menyebut ia dieksekusi di wilayah Kampung Randualas, sebagian lain menyebut di sekitaran Musuk dan Karangnongko. Walau begitu, proses eksekusi ini menjadi peristiwa tragis yang menimpa seorang pejabat daerah di masa itu.
Hingga kini, sejarah kelam itu masih hidup dan diingat oleh masyarakat Boyolali. Itu lantaran kabarnya proses eksekusi Suali berlangsung secara terbuka sehingga bisa disaksikan warga. Meski begitu, jejak makamnya hingga kini tidak jelas. Di mana Suali dimakamkan sampai saat ini tidak ada kejelasan.
Setelah peristiwa itu, nama dan fotonya sempat dihapus dari daftar resmi bupati Boyolali. Ia seolah dihapus dari sejarah daerahnya sendiri. Baru bertahun-tahun kemudian, potret dirinya kembali dipasang di kantor arsip. (wrd)

















