SURABAYA | Priangan.com – Ia tidak begitu terkenal. Namanya bahkan jarang disebut dalam pidato peringatan. Namun di medan tempur Surabaya, November 1945, jejaknya terukir di langit yang dipenuhi asap dan deru pesawat musuh. Di antara hiruk-pikuk pertempuran mempertahankan kemerdekaan, sosok pemuda asal Jember bernama Gumbreg punya peran yang mematikan.
Dalam ingatan publik, Pertempuran Surabaya kerap dilekatkan pada tokoh-tokoh besar seperti Bung Tomo, Gubernur Suryo, Mayjen Sungkono, atau KH Hasyim Asy’ari. Nama Gumbreg nyaris tenggelam. Padahal, ia adalah salah satu anggota Barisan Berani Mati, pasukan bentukan Bung Tomo yang menjadi ujung tombak perlawanan rakyat Surabaya.
Gumbreg bukan berasal dari kalangan militer. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai bekas pelayan kantor dagang setelah terpanggil untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan. Dengan sarung lusuh dan hem sederhana, ia datang dari Jember ke Surabaya. Penampilannya sempat menimbulkan keraguan. Bung Tomo bahkan tidak langsung yakin pada pemuda desa itu.
Keraguan itu sirna setelah dialog dan pengamatan atas kesungguhan serta daya juang Gumbreg. Ia kemudian diterima dan dilatih, termasuk dalam penggunaan bahan peledak dan persenjataan berat. Di Barisan Berani Mati, Gumbreg dikenal memiliki bakat luar biasa sebagai penembak jitu, terutama dalam mengoperasikan senjata penangkis serangan udara.
Di bawah komando Adenan dan pelatih Soebedjo, Gumbreg tergabung dalam inti pasukan bersama nama-nama lain seperti Goemoen, Panoet, Niti, Madekan Sipin, Gatot, Sarilan, Bambang, Arsad, dan Marali. Pasukan ini kemudian dibagi menjadi tiga regu kecil. Menjelang 10 November 1945, mereka berupaya melengkapi diri dengan persenjataan seadanya.
Senjata diperoleh dari sisa persenjataan Jepang di gedung Don Bosco, Jalan Tidar, Surabaya. Dari lokasi itu, pasukan Adenan mendapatkan dua pucuk luchtdoel atau senjata penangkis serangan udara, satu meriam howitzer, serta sejumlah senapan ringan. Tidak semua senjata berada dalam kondisi baik. Para pemuda harus memperbaikinya sendiri. Upaya itu membuahkan hasil. Senjata-senjata tersebut kemudian menjadi alat penting untuk menghadapi dominasi udara Inggris.
Para kombatan republik telah menyadari bahwa pasukan Inggris tidak hanya mengandalkan kapal perang dengan artileri berat, tetapi juga pesawat tempur. Regu Gumbreg ditempatkan di Wonokromo dengan satu pucuk luchtdoel dan mitraliur. Di posisi inilah kemahirannya diuji.
Ketika pertempuran pecah, Gumbreg menunjukkan kemampuannya sebagai penembak pesawat udara. Pesawat Mosquito Inggris yang melintas rendah dan kerap mengganggu posisi pejuang republik menjadi sasaran bidiknya. Selama keterlibatannya di Barisan Berani Mati, Gumbreg dikisahkan berhasil menjatuhkan lebih dari sepuluh pesawat musuh dengan tembakan artileri. Sebuah capaian yang luar biasa di tengah keterbatasan persenjataan dan risiko kematian yang selalu mengintai.
Ia tidak menerima gaji. Seperti anggota Barisan Berani Mati lainnya, Gumbreg berjuang tanpa pamrih. Nyawa menjadi taruhan, kemerdekaan menjadi tujuan.
Perjuangannya tidak hanya berlangsung di Wonokromo. Bersama pasukannya, Gumbreg sempat berpindah posisi ke Kenjeran, lalu ke Gunungsari. Di kawasan terakhir ini, tembakan-tembakan artileri pasukan pemuda memberi kerugian berarti bagi Inggris. Dampaknya segera terasa. Pada sekitar 19–20 November 1945, Inggris melancarkan serangan keras sebagai balasan. (wrd)

















