Ki Hadi Sugito dan Jejak Panjang Dalang Gagrag Yogyakarta

YOGYAKARTA | Priangan.com – Nama Ki Hadi Sugito memiliki posisi dalam sejarah pedalangan wayang kulit Jawa, khususnya dalam tradisi gagrag Yogyakarta. Dalang asal Kulon Progo ini dikenal luas sebagai figur yang berhasil menjembatani pakem klasik dengan selera masyarakat luas tanpa menghilangkan ruh pewayangan.

Ki Hadi Sugito sendiri lahir pada 31 Desember 1942 dan mengabdikan hampir seluruh hidupnya di dunia seni pertunjukan hingga wafat pada 9 Januari 2008. Dalam perjalanan kariernya, ia tampil sebagai dalang yang konsisten menjaga corak Yogyakarta, namun menghadirkannya dengan gaya tutur yang ringan, luwes, dan mudah dipahami.

Ciri paling menonjol dari pementasannya terletak pada penggunaan humor yang cerdas. Julukan dalang gecul melekat bukan semata karena unsur kelucuan, melainkan karena kemampuannya menyisipkan kritik sosial dan pesan moral melalui guyonan yang tetap selaras dengan alur lakon. Pendekatan ini membuat pertunjukannya terasa hidup dan dekat dengan penonton.

Di tengah kecenderungan pedalangan yang kerap mempertahankan bahasa tinggi dan struktur dialog yang berat, Ki Hadi Sugito memilih jalur berbeda. Ia memanfaatkan bahasa sehari-hari secara terukur, sehingga wayang kulit tidak hanya dinikmati kalangan tertentu, tetapi juga diterima oleh masyarakat awam dan generasi muda.

Kemampuannya dalam mengolah catur menjadi kekuatan utama. Percakapan antar tokoh dibangun dengan penokohan yang jelas, ekspresif, dan konsisten, menjadikan karakter wayang terasa nyata dan berkesan. Banyak penonton mengenang pementasannya bukan hanya karena cerita, tetapi karena kuatnya suasana yang ia bangun sepanjang pertunjukan.

Pengakuan terhadap kontribusinya datang secara resmi pada 2014, ketika Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menganugerahkan gelar Maestro Seni Pedalangan secara anumerta. Penghormatan ini menegaskan posisi Ki Hadi Sugito sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan seni wayang kulit Jawa.

Lihat Juga :  Jejak Santri, Warisan Lokal yang Diislamkan

Jejak namanya juga diabadikan dalam ruang publik. Sebuah ruas jalan sepanjang kurang lebih enam kilometer di Kabupaten Kulon Progo, yang membentang dari perempatan Nagung hingga wilayah Bugel, kini menyandang namanya. Penamaan ini menjadi penanda bahwa warisan Ki Hadi Sugito tidak berhenti di panggung pertunjukan, tetapi melekat dalam ingatan kolektif masyarakat. (wrd)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos