Historia

Kerajaan Sukakerta beribukota di Dayeuh Tengah Salopa Tasikmalaya

Oleh, Muhajir Salam

Sangat sulit sekali, mencari benang merah kepemimpinan dari Galunggung ke Sukakerta. Belum ditemukan, penjabaran konsisten dengan bukti-bukti yang memadai menganai bagaimana Galunggung bergeser menjadi Sukakerta. Sebagian peneliti berpendapat, bahwa periode ini terjadi missing-link, karena tidak banyak bukti yang dapat menjelaskan pemerintahan berpindah dari Rumantak (Sariwangi) ke Dayeuh Tengah (Salopa). Meskipun banyak usaha yang mencoba menjelaskan titik temu pergeseran kepemimpinan dari Darmasiksa sampai raja Sukakerta pertama Sri Gading Anteg. Wajar saja, Keterputusan informasi sejarah ini kurang lebih dalam kurun tiga abad, dari abad XII sampai dengan abad XV.

Team Penyusun Hari jadi Tasikmalaya berpendapat, para penerus Prabu Guru Darmasiksa adalah Prabu Ragasuci Sang Lumahing Taman yang memerintah selama enam tahun. Pada masa ini pemerintahan kerajaan Sunda dipindahkan ke Kawali (Galuh). Beliau masih menjabat rangkap kerajaan Sunda, Galuh, dan Galunggung. Tanpa petunjuk tahun peristiwa, urutan raja pengganti Ragasuci adalah Ratu Galung Sakti, Sembah Gelek, Ratu Panyosogan, Sang Lumahing Gunung Raja, dan terakhir adalah Sri Gading Anteg pendiri Sukakerta.

Lebih lanjut, menurut keterangan tim tersebut, pendirian kerajaaan Sukakerta oleh Sri Gading Anteg terjadi setelah Galunggung dihancurkan, diserang oleh Raja Pajajaran yang bernama Prabu Surawisesa. Ketika itu kerajaan-kerajaan kecil dibawah Pajajaran banyak dipengaruhi oleh perkembangan Islam dan berusaha melepaskan diri dari Pajajaran. Tentu saja, pendapat ini masih bersifat spekulatif, dan masih sangat lemah. Untuk menerangkan fenomena ini, nampaknya dibutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif.

Salah satu kelemahan dalam penulisan sejarah Sunda, umumnya terkonsentrasi pada kajian artefak, naskah dan mencari relasi keduanya dengan geneologi raja-raja. Padahal, khusus pembahasan mengenai Galungunggung, keberadaan gunung berapi menjadi sangat penting. Tentu saja, spekulasi lain akan menyatakan bahwa kepindahan Galunggung ke Sukakerta adalah bencana letusan Gunung Galunggung yang terjadi pada abad ke XV. Apabila didukung oleh bukti- bukti yang kuat, argumentasi ini sangat rasional. Karena pusat kekuasaan Galunggung berada tepat di lereng gunung. Bencana letusan Galunggung sangatlah dahsyat dan mematikan. Apalagi, setelah kekuasaan Galunggung hapus, hampir seluruh pusat pemerintahan setelahnya berjarak jauh dari Gunung Galunggung. Misalnya Sukakerta dan Sukapura yang berada di deretan perbukitan selatan Tasikmalaya.

Tonton Juga :  Mengenalkan “Kaulinan Barudak” di TK IT Ibadurrohman

Gambar. Peta Tasikmalaya tahun 1919

SUKAKERTA adalah kerajaan kecil yang menjadi cikal bakal kabupaten Sukapura. Kekuasaan Sukakerta telah ada sejak masa Pajajaran. Mulai awal bad ke 17, Sukakerta berubah menjadi Sukapura. Peristiwa itu terjadi setelah Kerajaan Sunda Sumedanglarang mulai menyerahkan diri kepada Kerajaan Islam Mataram yang berpusat di Yogyakarta. Maka sejak saat itu, Mataram menguasai seluruh wilayah di Priangan, dan Sukapura menjadi bawahanya.

Secara etimologis, Sukapura berasal dari kata Soeka yang artinya ‘asal’ dan Poera yang artinya ‘keraton’ atau ‘karaton’ (Marlina, 2000: 95). Makna terminologis dari Sukapura adalah pilar atau tihang utama. Dalam konteks historis, berdirinya Sukapura berfungsi sebagai tihang penyangga kekuasaan di Priangan. Terdapat banyak naskah lama yang ditulis sekitar daerah Priangan yang menceritakan mengenai Sukapura. Dalam berbagai naskah tersebut, diinformasikan tentang dinamika kelahiran, pertumbuhan, dan perkembangan Sukapura dari mulai zaman Sukakerta. Diantara sekian naskah, informasi tersebut dapat ditemukan dalam Wawacan Sajarah Sukapura yang dikarang oleh Raden Kanduruan Kertanagara alias Raden Haji Abdul Soleh.

Raden Haji Abdul Soleh adalah pensiunan Wedana Manonjaya yang masih keturunan Syekh Abdulmuhyi. Beliau menulis Sajarah Sukapura di Manonjaya dengan menggunakan bahasa Sunda dan aksara pegon. Naskah ini disusun dalam bentuk dangding delapan pupuh, yaitu dangdanggula, asmarandana, sinom, kinanti, magatru, durma, pangkur, dan maskumambang. Penulisan Sejarah Sukapura ini, diselesaikan pada hari Sabtu sore tanggal 5 Haji 1303 Hijriah, tahun Dal, bertepatan dengan tanggal 4 September 1886. Naskah ini berisi cerita dan tuturan tentang perkembangan kabupaten Sukapura mulai bupati pertama, Tumenggung Wiradadaha (1633-1673), hingga bupati ke-12, Tumenggung Wirahadiningrat (1875- 1906).

Naskah asli Wawacan Sajarah Sukapura ini sudah tidak ditemukan lagi, yang ada hanya salinan naskah. Salinan tertua (1889) berada di Perpustakaan Universitas Leiden (Belanda). Konon naskah ini, hadiah dari keluarga kepada C. Snouck Hurgronje, yang diserahkan di Manonjaya sekitar awal Nopember 1889. Sumber Informasi tentang Sukapura lainnya adalah naskah “Sajarah Sukapura” koleksi R. Sulaeman Anggapradja. Naskah ini ditemukan di Jalan Ciledug Garut.

Tonton Juga :  Karena Guru PAUD Harus Berkompeten

Bagian awal Sajarah Sukapura menceritakan Pangeran Ngabehi Kusuma Hadiningrat, seorang bangsawan di Tanah Sunda keturunan Jaka Tingkir, Sultan Pajang. Jaka Tingkir menurunkan para bangsawan di Tanah Sunda, khususnya para bupati Sukapura. Pada zaman dulu di Tanah Sunda ada dua tokoh terkenal bernama Pangeran Sumedang dan Dipati Ukur yang masing-masing menjadi kepala daerah di Sumedang dan Ukur. Keduanya menjadi pemimpin karena memiliki kekuatan yang luar biasa.

Bagian kedua, menceritakan Dipati Ukur, dimulai dengan perintah Sultan Mataram kepadanya dan Tumenggung Bakureksa untuk menyerang Kota Batavia (Jakarta). Akibat kegagalannya menyerang Batavia, kemudian Dipati Ukur melakukan pemberontakan terhadap Mataram tetapi berhasil ditumpas oleh pasukan Mataram. Bagian akhir diteruskan dengan pengangkatan Wirawangsa sebagai Bupati Sukapura, Astramanggala sebagai Bupati Bandung, dan Somahita sebagai Bupati Parakanmuncang, serta pembagian wilayah kepada mereka. Atas kehendak Sultan Mataram, wilayah Pasundan diserahkan kepada Kompeni (VOC).

Bagian ketiga, melukiskan perbandingan situasi ketika wilayah Pasundan berada dalam kekuasan Mataram dan Kompeni. Bila dibandingkan antarkeduanya, berada di bawah kekuasaan Kompeni lebih beruntung bagi rakyat pribumi (Pasundan) daripada di bawah kekuasaan Mataram.

Bagian terakhir, selanjutnya diceritakan keadaan Kabupaten Sukapura pada masa pemerintahan para Bupati Sukapura sejak Bupati Pertama, yaitu Wirawangsa atau Tumenggung Wiradadaha hingga Bupati ke-12 yaitu Raden Danukusumah.

Dalam melukiskan masa pemerintahan tiap-tiap Bupati Sukapura itu diungkapkan kematian bupati Sukapura sebelumnya, penggantian dengan bupati baru, peristiwa- peristiwa yang terjadi dan masalah-masalah yang timbul selama masa pemerintahan Bupati tersebut, saudara-saudara dan para putra bupati tersebut, dan akhirnya kematian bupati yang bersangkutan.

zvr
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Add Comment

Click here to post a comment

%d blogger menyukai ini: