TASIKMALAYA | Priangan.com – Nasib angkutan kota (angkot) di Kota Tasikmalaya kian terjepit. Seiring berubahnya pola transportasi masyarakat dan masifnya layanan berbasis aplikasi, para sopir angkot kini harus berjuang keras sekadar untuk membawa pulang uang setoran dan biaya makan harian.
Pantauan Priangan.com di sejumlah trayek angkot Kota Tasikmalaya menunjukkan banyak kendaraan harus menunggu lama di pangkalan atau berputar berkali-kali dengan penumpang minim. Waktu kerja semakin panjang, namun pendapatan justru makin tidak menentu.
Ion (40), salah satu sopir angkot, mengaku kondisi saat ini jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Menurutnya, menarik angkot seharian penuh belum tentu menjamin penghasilan layak.
“Sekarang narik dari pagi sampai sore kadang cuma cukup buat setoran dan makan. Dulu masih bisa bawa pulang uang, sekarang seringnya balik modal,” ujar Ion, Rabu (4/2/2026).
Keluhan serupa disampaikan Adnan (36). Ia menilai ojek dan taksi online telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam memilih moda transportasi. Faktor kecepatan, kenyamanan, dan kepastian waktu membuat angkot semakin tertinggal.
“Penumpang sekarang lebih pilih online. Kita kalah cepat dan kalah nyaman. Padahal kami juga cuma cari makan, bukan mau saingan,” kata Adnan.
Tak hanya soal sepinya penumpang, kondisi armada angkot yang menua juga menjadi beban tersendiri. Banyak kendaraan membutuhkan perawatan rutin, sementara harga suku cadang dan bahan bakar terus meningkat. Bagi sopir yang masih menyetor kepada pemilik kendaraan, situasi ini terasa semakin berat.
“Mobil sudah tua dan sering rusak. Kalau mogok di jalan, kami yang rugi. Tapi kalau diperbaiki, biayanya juga besar,” tambah Adnan.
Di tengah tekanan tersebut, para sopir angkot menilai perhatian pemerintah daerah masih minim. Indra (37), sopir lainnya, berharap ada kebijakan nyata untuk menjaga keberlangsungan angkutan umum konvensional di Kota Tasikmalaya.
“Kami tidak minta dimanja. Setidaknya ada solusi, seperti penataan trayek, bantuan peremajaan kendaraan, atau aturan yang adil. Jangan sampai angkot benar-benar ditinggalkan,” ujarnya.
Meski berada di tengah ketidakpastian, sebagian sopir tetap bertahan karena tidak memiliki pilihan pekerjaan lain. Mereka berharap angkot masih mendapat tempat sebagai moda transportasi masyarakat, khususnya bagi warga yang belum terjangkau layanan transportasi berbasis aplikasi. (ags)

















