TASIKMALAYA | Priangan.com – Dunia pers Tasikmalaya kembali tercoreng. Agustiana Mulyono, jurnalis Priangan.com, diduga menjadi korban penganiayaan dan intimidasi oleh oknum Ketua Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), saat menjalankan tugas jurnalistiknya.
Peristiwa itu terjadi di area Rumah Sakit TMC Tasikmalaya, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang. Insiden bermula ketika korban hendak melakukan konfirmasi dan klarifikasi terkait isu yang berkembang seputar proyek KDMP. Namun alih-alih mendapatkan jawaban terbuka, korban justru diarahkan untuk bertemu di lokasi tersebut.
Di tempat itulah, situasi memanas. Korban mengalami benturan fisik yang mengakibatkan luka ringan. Dugaan intimidasi dan tindakan represif ini langsung menuai kecaman luas dari berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat sipil.
Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Tasikmalaya angkat suara keras. Ketua DPC GMNI Kota Tasikmalaya, Kevin Silalahi, menilai tindakan tersebut sebagai bentuk nyata pembungkaman terhadap kebebasan pers.
“Kami mengecam keras segala bentuk kekerasan terhadap jurnalis. Wartawan dilindungi undang-undang dalam menjalankan tugasnya. Ini bukan sekadar persoalan individu, ini menyangkut hak publik untuk mendapatkan informasi,” tegas Kevin, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, pengawasan publik melalui media menjadi semakin penting, apalagi jika berkaitan dengan proyek yang masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN). Ia mengingatkan, tidak boleh ada pihak yang merasa kebal hukum hanya karena berada di lingkar proyek strategis.
“Kalau ada yang alergi dikonfirmasi, itu patut dipertanyakan. Jangan sampai kekerasan dijadikan alat untuk menutup akses informasi. Ini berbahaya bagi demokrasi lokal,” ujarnya.
Kevin menambahkan, intimidasi terhadap jurnalis tidak hanya melukai fisik korban, tetapi juga mencederai prinsip negara hukum. Ia mendesak aparat penegak hukum segera mengusut tuntas dugaan penganiayaan tersebut dan memastikan tidak ada impunitas.
Di tengah meningkatnya sorotan terhadap proyek-proyek publik di Tasikmalaya, insiden ini menjadi alarm keras bahwa kebebasan pers masih menghadapi ancaman. Padahal, media merupakan salah satu pilar utama kontrol sosial agar program pemerintah berjalan transparan dan akuntabel. (ham)

















