FLORIDA | Priangan.com — Menjelang pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Ukraina Vladimir Zelensky menempatkan situasi keamanan terkini sebagai latar utama pembahasan diplomatik. Ia menilai rangkaian serangan Rusia ke ibu kota Ukraina menunjukkan bahwa Moskow belum memberi sinyal penurunan eskalasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Zelensky pada Minggu, 28 Desember 2025, sesaat sebelum agenda pertemuan di Florida. Menurutnya, intensitas serangan rudal dan drone Rusia ke Kyiv sepanjang akhir pekan mencerminkan jarak antara wacana perdamaian dan kondisi di lapangan.
Zelensky mengaitkan serangan tersebut dengan posisi Rusia dalam proses negosiasi. Ia menyebut, di tengah upaya Kiev mendorong jalur diplomasi, Moskow justru meningkatkan tekanan militer. Pandangan itu disampaikan setelah pertemuannya dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Otoritas Ukraina melaporkan bahwa serangan sejak Jumat menewaskan dua orang dan melukai puluhan lainnya. Infrastruktur energi ikut terdampak, menyebabkan sekitar 40 persen kawasan permukiman di Kyiv mengalami gangguan pasokan pemanas di tengah musim dingin.
Pertemuan antara Zelensky dan Trump diperkirakan akan menyinggung sejumlah isu sensitif, termasuk jaminan keamanan dari Amerika Serikat serta kemungkinan kompromi teritorial yang selama ini menjadi titik paling rumit dalam perundingan dengan Rusia. Dalam kesempatan itu, Zelensky juga berencana memaparkan versi terbaru rencana perdamaian Ukraina.
Dokumen tersebut terdiri atas 20 poin dan merupakan revisi dari proposal sebelumnya. Zelensky menyebut rancangan itu sebagai fondasi untuk mengakhiri perang dan mengatakan proses penyusunannya telah mendekati tahap akhir.
Dari Moskow, Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan pandangan yang berlawanan. Ia menilai Ukraina tidak menunjukkan keseriusan dalam menempuh penyelesaian politik. Putin kembali menegaskan bahwa Rusia akan melanjutkan operasi militernya apabila Kiev tidak bersedia menempuh jalan damai.
Sikap keras juga datang dari Washington. Trump menyatakan bahwa keputusan akhir terkait kesepakatan damai tetap berada di tangannya. Dalam wawancara dengan Politico, ia menegaskan bahwa tidak ada proposal yang berjalan tanpa persetujuan Amerika Serikat.
Meski demikian, Trump menyampaikan keyakinan bahwa kesepakatan masih memungkinkan dicapai dan dapat diterima oleh kedua pihak. Ia juga menyatakan harapannya untuk dapat berbicara langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam waktu dekat, seiring upaya mendorong terobosan diplomatik di tengah perang yang belum menunjukkan tanda mereda. (Zia)

















