Jejak Sang Perintis: Raden Dewi Sartika dan Warisan Abadi Sakola Istri

​BANDUNG | Priangan.com – Gagasan soal pendidikan bagi perempuan pribumi di era kolonial bukan sekadar hal tabu, tetapi sebuah perlawanan. Di tengah pandangan adat yang menempatkan wanita hanya sebatas di dapur dan di rumah, seorang puteri menak Sunda memilih jalan yang berbeda. Namanya Raden Dewi Sartika.

​Kisah perjuangannya tidak dimulai dengan gegap gempita. Ia memulainya dari sebuah permainan sederhana di Cicalengka, tempat ia diasuh sang paman setelah ayahnya, Patih Bandung Raden Rangga Somanagara, diasingkan ke Ternate pada 1893. Peristiwa politik itu memaksanya berhenti sekolah dari ELS, sekolah bergengsi Eropa.

​Di Cicalengka, di belakang dapur kepatihan, Dewi Sartika kecil sering bermain sekolah-sekolahan. Ia menjadi gurunya. Murid-muridnya adalah anak-anak pegawai kepatihan. Alat tulisnya pun seadanya: pecahan genting sebagai pengganti papan tulis, dan arang kayu sebagai kapurnya. Di sanalah ia mengajarkan baca-tulis dan berhitung. Permainan itu rupanya menanamkan sebuah cita-cita yang kelak mengubah sejarah.

​Saat beranjak remaja, ia kembali ke Bandung. Keyakinannya untuk mendirikan sekolah sungguhan bagi para gadis semakin kuat. Ia melihat kenyataan pahit di sekitarnya. Banyak gadis, bangsawan ataupun rakyat biasa, tidak mendapat kesempatan mengenyam ilmu. Mereka dipingit, disiapkan hanya untuk menjadi istri.

​Tentu saja niat itu ditentang. Namun, Dewi Sartika tidak goyah. Ia sadar, status sosialnya sebagai bangsawan bisa menjadi jalan untuk meyakinkan para pembesar, baik pribumi maupun Belanda. Dengan bantuan Bupati Bandung R.A.A. Martanagara dan Inspektur Sekolah C. den Hamer, mimpi itu akhirnya terwujud.

​Pada 16 Januari 1904, di Paseban Kulon Pendopo Kabupaten Bandung, Sakola Istri resmi berdiri. Murid angkatan pertamanya berjumlah sekitar 20 orang.

Dewi Sartika, bersama Poerna dan Oewit, menjadi pengajar di sana. Kurikulumnya tidak hanya pelajaran umum, tetapi ditambah keterampilan yang dianggap penting bagi wanita: menjahit, menisik, merenda, dan menyulam. Tujuannya jelas, agar kaum wanita kelak bisa mandiri.

Lihat Juga :  Quo Vadis Hari Jadi Kota Tasikmalaya

​Tahun-tahun pertama adalah masa yang berat. Cemoohan datang dari berbagai penjuru. Ada anggapan bahwa seorang wanita menak yang menjadi guru adalah perbuatan memalukan, seolah-olah orang tuanya tidak mampu mengurusnya. Meski begitu, Dewi Sartika jalan terus.

​Dukungan datang dari suaminya, Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seorang guru yang ia nikahi pada 1906. Semangatnya kian besar. Murid yang mendaftar semakin banyak, sehingga pada 1905 sekolah terpaksa dipindahkan ke tempat yang lebih luas di Jalan Ciguriang. Jalan itu kini kita kenal sebagai Jalan Kautamaan Istri.

Lihat Juga :  Quo Vadis Hari Jadi Kota Tasikmalaya

​Pada 1910, nama sekolah diubah menjadi Sakola Kautamaan Istri. Perubahan ini menandai penyempurnaan kurikulum dengan pelajaran memasak dan membatik. Sekolah ini berkembang pesat, cabangnya berdiri di berbagai kota seperti Garut, Tasikmalaya, hingga Purwakarta. Lulusannya bahkan ada yang berasal dari Bukittinggi, yang kemudian kembali ke daerahnya untuk mendirikan sekolah serupa.

​Perjuangan Dewi Sartika mulai mendapat pengakuan resmi. Pemerintah Hindia Belanda memberinya bintang kehormatan atas jasanya. Nama sekolahnya pun diubah menjadi “Sakola Raden Dewi” sebagai bentuk penghormatan.

​Ujian kembali datang silih berganti. Ia kehilangan suami tercinta pada 1939. Lalu, pendudukan Jepang pada 1942 membuat sekolahnya diambil alih dan namanya diganti menjadi “Sekolah Gadis”. Situasi ekonomi dan politik yang sulit tidak memadamkan apinya.

​Setelah Indonesia merdeka, ia berniat melanjutkan cita-citanya. Apa daya, situasi keamanan di Bandung memburuk. Peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946 memaksanya ikut mengungsi. Ia berpindah dari Ciparay, Garut, hingga akhirnya ke Cineam, Ciamis.

​Di tengah perjalanan pengungsian yang berat itu, kesehatannya menurun drastis. Sang perintis pendidikan wanita itu akhirnya berpulang di Rumah Sakit Cineam pada 11 September 1947, dalam usia 63 tahun. Ia dimakamkan di Cineam sebelum akhirnya dipindahkan ke pemakaman keluarga Bupati Bandung.

Lihat Juga :  Biografi John F. Kennedy, Presiden AS yang Berakhir Tragis

​Raden Dewi Sartika telah tiada, namun warisannya terus hidup. Pada 1951, Yayasan Dewi Sartika didirikan untuk melanjutkan cita-citanya, mengelola sekolah yang ia rintis dengan susah payah.

Atas seluruh jasa dan pengorbanannya yang telah membuka gerbang pendidikan bagi kaum wanita, Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 1 Desember 1966. Jejaknya abadi, terpatri dalam setiap langkah perempuan Indonesia yang kini bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. (wrd)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos