TASIKMALAYA | Priangan.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang mendorong ekonomi kerakyatan justru memunculkan keluhan di tingkat pasar tradisional. Pedagang buah di Pasar Rel, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya mengaku daya beli masyarakat merosot, sementara harga di tingkat grosir terus naik.
Ai, pedagang buah yang sudah lama berjualan di pasar tersebut, menyebut kondisi lapak kini jauh lebih sepi dibanding sebelumnya. Jumlah pembeli turun drastis, bahkan pelanggan tetap mulai mengurangi belanja.
“Kondisinya sangat sepi. Buah lebih lama tertahan di lapak. Pembeli berkurang, permintaan juga turun,” ujarnya kepada Priangan.com, Rabu (4/3/2026).
Ironisnya, di saat omzet melemah, harga modal justru meningkat. Kenaikan harga dari distributor membuat pedagang berada dalam posisi sulit. Mereka tak berani menaikkan harga terlalu tinggi karena khawatir kehilangan pembeli, namun jika harga ditahan, keuntungan semakin tipis.
Menurut Ai, situasi ini mencerminkan lesunya perputaran uang di lapisan bawah. Masyarakat dinilai lebih selektif membelanjakan uangnya dan mengutamakan kebutuhan pokok dibanding buah-buahan yang dianggap bukan prioritas utama.
“Sepertinya ekonomi di bawah sedang macet. Uang tidak berputar seperti dulu,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Rudi, pedagang buah lainnya. Ia menduga tingginya serapan bahan baku untuk kebutuhan dapur MBG menjadi salah satu faktor terbatasnya pasokan di pasar tradisional. Banyak distributor besar memasok langsung ke pengelola program, sehingga stok di pasar menyusut dan harga naik.
“Kalau stok ditarik ke atas untuk program besar, otomatis barang di pasar sedikit dan harganya naik. Sementara pembeli di sini masyarakat umum yang anggarannya terbatas,” jelas Rudi.
Pedagang merasa tidak ikut merasakan dampak ekonomi dari program berskala nasional tersebut. Mereka hanya terkena imbas kenaikan harga tanpa menikmati perputaran anggaran program.
Para pedagang berharap pemerintah memastikan pemerataan penyerapan bahan baku, termasuk melibatkan pedagang kecil dalam rantai distribusi. Menurut mereka, jika belanja kebutuhan MBG turut menyentuh pasar tradisional, perputaran uang akan kembali hidup.
“Kalau pembelian bisa merata ke pedagang kecil, pasar pasti bergerak lagi. Jangan sampai uang program besar hanya berputar di supplier besar saja,” tegas Rudi. (ham)

















