TAHERAN | Priangan.com — Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa negaranya siap mengambil langkah militer pendahuluan terhadap Amerika Serikat dan Israel apabila muncul tanda-tanda ancaman langsung terhadap keamanan nasional Iran. Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin, 12 Januari 2026, di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Ghalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan menunggu hingga serangan terjadi. Ia menyebut bahwa setiap indikasi agresi akan membuat kepentingan militer AS dan Israel di kawasan, termasuk pangkalan dan aset laut, masuk dalam daftar sasaran potensial.
Menurutnya, kebijakan pertahanan Iran didasarkan pada pencegahan aktif. Ia menyatakan bahwa Teheran akan bertindak berdasarkan penilaian ancaman yang terukur untuk menghindari kesalahan kalkulasi pihak lawan yang dapat memicu eskalasi luas.
Peringatan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pernyataan terbuka yang mendukung gelombang protes anti-pemerintah di Iran. Teheran menilai sikap itu sebagai bentuk campur tangan langsung dalam urusan dalam negeri.
Sebelumnya, Trump menyatakan Washington siap memberikan dukungan kepada demonstran jika pemerintah Iran terus melakukan penindakan keamanan. Netanyahu juga mengeluarkan pernyataan senada, yang oleh pejabat Iran dipandang sebagai legitimasi politik terhadap tekanan eksternal.
Sejumlah media di Amerika Serikat melaporkan bahwa Trump telah menerima paparan opsi militer terkait Iran, termasuk kemungkinan serangan terbatas. Meski demikian, belum ada keputusan resmi yang diumumkan. Iran dan Israel diketahui pernah terlibat eskalasi militer langsung pada pertengahan 2025, termasuk serangan terhadap fasilitas strategis Iran.
Situasi dalam negeri Iran sendiri masih diwarnai gelombang demonstrasi sejak akhir Desember 2025. Protes bermula dari krisis ekonomi akibat melemahnya mata uang nasional, yang memicu lonjakan harga kebutuhan pokok. Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi kerusuhan, bentrokan dengan aparat, serta penyerangan terhadap fasilitas pemerintah.
Pemerintah Iran melaporkan ratusan korban jiwa dari kalangan warga sipil dan aparat keamanan. Otoritas Iran menegaskan bahwa kekerasan dalam demonstrasi tidak murni bersumber dari tuntutan ekonomi, melainkan dipicu oleh intervensi asing yang bertujuan menciptakan instabilitas. (Zia)

















