Jatuh di Chichijima; Episode Kelam Perang Pasifik yang Merubah Takdir George H. W. Bush

CHICHIJIMA | Priangan.com – Jatuhnya pesawat Angkatan Laut Amerika Serikat di sekitar Pulau Chichijima pada 1944 menorehkan salah satu catatan paling gelap dalam sejarah Perang Pasifik. Insiden ini membuka tabir tragedi yang menimpa penerbang Amerika.

Adalah George Herbert Walker Bush, seorang pria berusia 20 tahun yang merupakan Angkatan Laut AS. Kala itu ia ditugaskan sebagai pilot torpedo. Pada September 1944, ia terlibat langsung dalam misi pengeboman instalasi militer Jepang di wilayah Kepulauan Ogasawara. Dalam operasi tersebut, tembakan pertahanan udara Jepang menghantam pesawat Bush hingga terbakar di udara.

Meski menghadapi kondisi genting, Bush tetap mengendalikan pesawatnya. Ia memastikan awak lain memiliki waktu untuk menyelamatkan diri sebelum akhirnya melompat ke laut dari ketinggian rendah.

Bush jatuh di perairan terbuka dan bertahan dengan mengapung selama beberapa jam. Luka dan kelelahan tidak menghentikannya untuk tetap hidup. Sebuah kapal selam Angkatan Laut AS, USS Finback, menemukan Bush saat berpatroli di kawasan tersebut dan segera mengevakuasinya. Penyelamatan ini menjadi momen krusial yang menyelamatkan nyawa Bush.

Tidak semua penerbang Amerika mengalami keberuntungan yang sama. Pasukan Jepang menangkap sejumlah awak pesawat lain yang jatuh di sekitar Chichijima. Dalam situasi perang yang terisolasi dan keras, para penjaga mengeksekusi tawanan tersebut.

Fakta ini baru terungkap setelah perang berakhir. Pengadilan militer Sekutu kemudian menyelidiki kasus tersebut sebagai kejahatan perang dan membawa sejumlah perwira Jepang ke meja hijau.

Kasus Chichijima menjadi salah satu contoh paling ekstrem dari kekerasan terhadap tawanan perang di Teater Pasifik. Pengadilan militer menjatuhkan hukuman kepada para pelaku karena melanggar hukum perang internasional yang berlaku saat itu.

Bagi George H. W. Bush, peristiwa di Chichijima meninggalkan bekas mendalam. Ia melanjutkan karier militernya, lalu menapaki dunia politik hingga menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat ke-41. Meski demikian, pengalaman selamat dari maut di Pasifik tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Lihat Juga :  Pemberontakan Taiping, Konflik Internal China yang Menelan Puluhan Juta Jiwa

Sejarawan menilai insiden Chichijima sebagai gambaran nyata bahwa perang tidak semata ditentukan oleh strategi dan kekuatan senjata. Faktor waktu dan keberuntungan sering kali memainkan peran penentu. Bush selamat dalam hitungan jam, sementara rekan-rekannya menghadapi akhir tragis di tempat yang sama. (wrd)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos