TASIKMALAYA | Priangan.com – Lonjakan harga telur di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, mulai memukul daya beli masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah disebut menjadi salah satu pemicu tersedotnya pasokan telur langsung dari tingkat peternak, membuat stok di pasar tradisional menipis dan harga merangkak naik.
Pantauan di lapangan menunjukkan harga telur ayam negeri naik signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Telur puyuh pun ikut terdampak. Kondisi ini membuat pembeli rumah tangga mengurangi jumlah belanja, bahkan ada yang hanya membeli setengah dari kebutuhan biasanya.
“Sekarang harga dari kandang sudah tinggi karena banyak diserap untuk dapur program MBG. Kita di pasar kebagian sedikit, akhirnya harga jual ikut naik,” ujar Gilang, pedagang telur di Pasar Cikurubuk kepada Priangan.com, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, sebelum program berjalan, pasokan relatif stabil. Namun kini, sebagian besar produksi peternak langsung dialokasikan untuk kebutuhan dapur SPPG, sehingga pedagang grosir kesulitan mendapatkan stok dalam jumlah besar.
Dudi, pedagang lainnya, mengaku dampak paling terasa ada pada pedagang kecil dan pengecer. Mereka biasanya mengambil telur dalam jumlah besar untuk dijual kembali, tetapi kini terpaksa mengurangi pembelian karena harga modal melonjak.
“Pedagang kecil jadi mikir dua kali. Modalnya tidak masuk kalau ambil banyak. Pembeli langsung juga berkurang karena harganya lagi tinggi,” katanya.
Kenaikan harga ini menciptakan ironi. Di satu sisi, program MBG bertujuan meningkatkan gizi masyarakat. Namun di sisi lain, rumah tangga non-penerima program justru menghadapi beban harga pangan yang lebih mahal.
Para pedagang berharap pemerintah segera melakukan penyeimbangan distribusi agar pasar tradisional tidak terus tertekan. Jika stok terus terserap tanpa pengaturan yang jelas, mereka khawatir harga akan semakin sulit dikendalikan dan daya beli masyarakat makin tergerus. (ham)

















