JAKARTA | Priangan.com – Pemerintah Indonesia menyatakan siap menyerap dampak lonjakan harga minyak dunia dengan menggunakan anggaran negara serta meningkatkan alokasi subsidi energi, pada Senin 9 Maret 2026. Kebijakan ini diambil untuk menjaga harga bahan bakar dan tarif listrik tetap terjangkau bagi masyarakat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah menganggarkan sekitar 381,3 triliun rupiah untuk subsidi energi serta kompensasi terhadap perusahaan energi milik negara sepeti Pertamina dan PLN.
Anggaran tersebut disusun berdasarkan asumsi harga minyak mentah Indonesia sekitar 70 dolar per barel dan Nilai tukar rupiah rata-rata Rp16.500 per dolar pada tahun 2026. Namun situasi pasar energi berubah drastis pasca konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak melonjak.
Harga minyak global bahkan dilaporkan menembus $100 per barel pada Senin. Pada saat yang sama, Nilai tukar rupiah juga melemah hingga mencapai sekitar Rp16.990 per dolar, mencerminkan meningkatnya tekanan pasar di pasar keuangan.
“Bahkan jika harga minyak global naik, kami akan menyerap guncangan tersebut dengan anggaran dan mengendalikan dampaknya sebanyak mungkin,” ujar Purbaya kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa anggaran subsidi kemungkinan akan meningkat jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu yang lama. Pemerintah akan memantau perkembangan selama sekitar satu bulan sebelum menentukan langkah kebijakan lanjutan.
Meski demikian, pemerintah mengungkapkan akan menjaga disiplin fiskal. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan target defisit anggaran tahun 2026 tetap dijaga di sekitar 2,68% dari PDB.
Sementara itu, Menteri Energi Bahlil Lahadalia memastikan pasokan bahan bakar nasional masih aman. Pemerintah juga belum berencana menaikkan harga bahan bakar bersubsidi setidaknya hingga setelah perayaan Hari Idul Fitri. (Zia)
















