Fray Tormenta; Imam Katolik yang Bertarung di Ring Demi Anak-Anak Terlantar

MEKSIKO | Priangan.com – Nama Sergio Gutiérrez Benítez tercatat dalam dua dunia yang nyaris tak pernah bersinggungan. Di satu sisi, ia adalah imam Katolik dari Ordo Piaris yang mengabdikan hidupnya bagi pendidikan anak miskin.

Di sisi lain, ia dikenal publik sebagai Fray Tormenta, pegulat lucha libre bertopeng yang bertarung di arena paling bergengsi di Meksiko. Dua identitas itu dijalani secara bersamaan selama puluhan tahun, bukan untuk ketenaran, melainkan demi keberlangsungan hidup ratusan anak terlantar.

Sergio lahir pada 23 Mei 1945 di Negara Bagian Hidalgo, Meksiko. Sejak muda ia memilih jalan hidup religius dan bergabung dengan Ordo Piaris, sebuah tarekat yang berfokus pada pendidikan dan perlindungan anak-anak dari keluarga miskin. Pada akhir 1960-an, ia ditugaskan melayani komunitas marjinal di Texcoco, wilayah pinggiran yang dihuni banyak anak yatim dan keluarga tanpa akses pendidikan dasar.

Realitas yang ia hadapi jauh dari ideal. Banyak anak hidup tanpa makanan cukup, tanpa sekolah, dan tanpa tempat berlindung yang aman. Pada 1973, Sergio mendirikan sebuah rumah asuhan bernama La Casa de los Cachorros.

Namun, niat baik itu segera berbenturan dengan keterbatasan dana. Bantuan gereja tidak mencukupi, sementara kebutuhan anak-anak terus bertambah. Beberapa kali rumah asuhan tersebut berada di ambang penutupan.

Dalam situasi itulah Sergio mengambil langkah yang tidak lazim bagi seorang imam. Ia memasuki dunia lucha libre, gulat profesional yang memiliki basis penonton besar dan bayaran relatif tinggi.

Demi menjaga posisinya sebagai rohaniwan, ia mengenakan topeng dan menggunakan nama Fray Tormenta. Identitas tersebut memungkinkannya bertarung tanpa membuka kehidupan pribadinya ke hadapan publik.

Karier Fray Tormenta berlangsung sejak awal 1970-an hingga awal 1990-an. Ia tampil di berbagai arena resmi, termasuk Arena México, pusat utama lucha libre nasional.

Lihat Juga :  Misteri Hilangnya Michael Rockefeller di Perairan Papua

Dikenal sebagai pegulat bertipe rudo, ia menjalani gaya bertarung keras dan berisiko tinggi. Cedera berat menjadi bagian dari kesehariannya, namun seluruh penghasilan dari ring dialirkan untuk membiayai makanan, pendidikan, dan perawatan anak-anak di rumah asuhan.

Rutinitasnya berjalan dalam dua dunia yang kontras. Pada pagi dan siang hari, ia memimpin misa, mengajar, serta mengurus anak-anak. Pada malam hari, ia berubah menjadi Fray Tormenta, bertarung di hadapan ribuan penonton. Selama lebih dari dua dekade, ratusan anak pernah diasuh di La Casa de los Cachorros, meski jumlah penghuni berubah seiring waktu.

Lihat Juga :  Kembalinya PNI Pasca Kemerdekaan

Identitas gandanya akhirnya terungkap pada awal 1990-an setelah media olahraga mengungkap siapa sosok di balik topeng Fray Tormenta. Berbeda dari dugaan, pengungkapan tersebut tidak memicu kecaman. Publik justru menyambut kisah itu dengan simpati luas. Media nasional dan internasional menempatkannya sebagai contoh pengorbanan personal yang lahir dari keterbatasan, bukan dari institusi besar.

Kisah hidupnya kemudian menginspirasi berbagai karya populer, termasuk film Nacho Libre (2006). Namun Sergio sendiri menegaskan bahwa film tersebut hanya mengambil ide dasar dan tidak mencerminkan realitas hidupnya secara utuh. Baginya, cerita yang penting bukanlah hiburan, melainkan nasib anak-anak yang selama ini ia lindungi.

Setelah pensiun dari dunia gulat, Sergio tetap menetap di Texcoco dan melanjutkan keterlibatannya dalam pengelolaan rumah asuhan. Banyak mantan anak asuhnya berhasil menempuh pendidikan dan membangun kehidupan mandiri. Sebagian dari mereka kembali membantu sebagai relawan, menjaga kesinambungan misi yang pernah menyelamatkan hidup mereka.

Kisah Fray Tormenta terdokumentasi dalam arsip Arena México, laporan media seperti La Jornada dan Proceso, serta kajian akademik tentang budaya lucha libre. Tidak ada bukti bahwa cerita ini fiktif. Yang sering berubah hanyalah cara ia diceritakan.

Lihat Juga :  Pemberontakan Jambi 1916: Saat Buruh Bangkit di Tengah Cengkeraman Kolonial

Dalam sejarah Meksiko, Sergio Gutiérrez Benítez dikenang bukan karena topeng atau sorak penonton, melainkan karena pilihannya menjalani penderitaan fisik demi masa depan anak-anak yang tak memiliki siapa-siapa. (wrd)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos