Film Dokumenter Gunung Nagara Ungkap Jejak Peradaban Tua di Garut

GARUT | Priangan.com – Film dokumenter berjudul Gunung Nagara resmi ditayangkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut bersama Dewan Kebudayaan setempat. Film ini merekam kekayaan budaya, sejarah, dan kearifan lokal di kawasan Gunung Nagara, Desa Depok, Kecamatan Cisompet.

Situs yang berada di wilayah Garut Selatan ini diyakini menyimpan jejak peradaban Islam kuno dan peninggalan masa awal Kerajaan Sunda. “Kerjasama seperti ini sangat membantu tugas kami dalam mendokumentasikan budaya, selain melalui penelitian,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Garut, Wawan Somarwan, Rabu, 12 November 2025.

Gunung Nagara memiliki kekayaan kearifan lokal yang melimpah, diantaranya tradisi nepus, kesenian rudat, hingga pembuatan perkakas tradisional.

Tradisi nepus adalah ritual adat Sunda yang berhubungan dengan pembersihan diri secara spiritual, baik secara lahir maupun batin dan umumnya dilakukan di sumber air alami seperti sungai, pancuran, atau mata air suci. Kegiatan ini dilakukan di aliran sungai Cikaso dan Cipalebuh, dua sungai yang mengapit gunung itu.

Dalam praktiknya, warga berendam atau menyiramkan air ke tubuh sambil berdoa, dengan keyakinan bahwa air tersebut dapat “ngaleungitkeun lepat”, atau menghapus kesalahan. Tradisi ini menjadi perwujudan falsafah Sunda Tri Tangtu di Buana, keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Sementara, kesenian Rudat menjadi ekspresi budaya Islam yang menyatu dengan tradisi Sunda. Pertunjukan Rudat menampilkan gerakan silat yang berpadu dengan lantunan shalawat dan tabuhan rebana, menciptakan harmoni antara nilai spiritual dan kekompakan sosial. Di wilayah selatan Garut, termasuk Cisompet, Rudat kerap dimainkan dalam acara keagamaan dan upacara adat, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan media dakwah yang menghibur.

Menurut Wawan, pemerintah daerah akan memberikan dukung pelestarian budaya melalui bantuan hibah seperti peralatan dan kostum pendukung kegiatan kebudayaan. “Dokumentasi ini bisa menjadi literasi bagi generasi muda,” ujarnya

Lihat Juga :  Layanan Terpadu Kota Banjar Kini Dipusatkan di Komplek Perkantoran Purwaharja

Pembina Dewan Kebudayaan yang juga mantan Bupati Kabupaten Garut, Rudy Gunawan, menjelaskan, film ini merupakan bagian dari riset dan pengarsipan terhadap situs-situs bersejarah di Garut.

Kajian ini dinilai penting karena sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menekankan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan budaya nasional. “Gunung Nagara ini menarik karena banyak yang meyakini usianya lebih tua dari masa Prabu Siliwangi, sekitar 600 hingga 700 tahun lalu,” ujar Rudy.

Menurut berbagai catatan, Gunung Nagara disebut sebagai tempat “peristirahatan” para raja atau bangsawan Sunda yang memilih mengasingkan diri di masa tua. Di kawasan itu ditemukan sejumlah makam kuno dengan batu nisan bertulisan Arab gundul, menandakan adanya pengaruh Islam yang kuat pada masa lampau.

Lihat Juga :  Datangi Tempat Usaha Tak Berizin, Kang DS: Kalau Bandel akan Saya Segel

Sumber dari Dewan Kebudayaan Garut menyebut kompleks makam terbagi menjadi tiga area, dengan puluhan nisan kuno yang sebagian besar masih belum diteliti secara ilmiah. Selain itu, di sekitar situs tumbuh pohon berusia ratusan tahun yang menjadi bagian dari lanskap spiritual masyarakat setempat.

Gunung Nagara juga dikenal dalam tradisi lisan sebagai “kabuyutan” atau tempat suci leluhur Sunda. Kawasan ini berada di antara dua sungai. Sungai Cikaso di timur dan Cipalebuh di barat, yang oleh masyarakat dipercaya memiliki makna simbolik penyucian diri.

Kawasan Gunung Nagara terletak di ketinggian sekitar 466 meter di atas permukaan laut (menurut Mapcarta), meski versi lokal menyebut jalur menuju puncaknya mencapai ±1.500 meter dengan “Tangga Seribu” yang menjadi ikon situs tersebut.

Rudy berharap, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan agar Gunung Nagara tak sekadar menjadi legenda lokal. Beberapa penelitian awal menemukan bahwa sebagian artefak dan nisan di kawasan itu berpotensi berasal dari periode awal masuknya Islam di Tatar Sunda, meski belum ada publikasi akademik resmi yang mengonfirmasi kronologi maupun identifikasi tokoh yang dimakamkan di sana.

Lihat Juga :  Stabilisasi Harga Beras, Bupati Garut Pastikan Bantuan Tak Salah Sasaran

“Kita berharap ada penelitian ilmiah yang lebih mendalam untuk menentukan usia pohon, batu nisan, dan konteks sejarahnya,” ujarnya.

Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Garut, Irwan Hendarsyah, mengatakan bahwa Gunung Nagara, memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis budaya. alasannya karena daerah tersebut memiliki nilai sejarah, spiritualitas, dan alam yang indah.

“Budaya yang besar adalah budaya yang menghargai para pendahulunya. Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke. (ada dahulu, ada sekarang, tiada dahulu, tiada sekarang),” ujarnya. (szm)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos