Empat Perempuan Belanda yang Memilih Republik Indonesia

JAKARTA | Priangan.com – Nama mereka jarang muncul dalam buku pelajaran sejarah, namun keberadaannya tercatat jelas dalam jejak Revolusi Indonesia. Empat perempuan asal Belanda ini benar-benar ada dan memilih berdiri di pihak Republik Indonesia pada saat negeri asal mereka berupaya merebut kembali bekas tanah jajahan. Mereka adalah Dolly Zegerius serta tiga bersaudara Betsy, Annie, dan Miny Kobus.

Dolly Zegerius lahir di Belanda pada 26 Juli 1925. Ia datang ke Indonesia bukan sebagai pegawai kolonial dan bukan pula bagian dari struktur militer Belanda. Perjalanannya ke Nusantara berawal dari pernikahannya dengan Raden Mas Soetarjo Soerjosoemarno, bangsawan dari lingkungan Mangkunegaran Surakarta. Kesaksian hidup Dolly terdokumentasi dalam wawancara BBC Indonesia pada 2016 dan diperkuat oleh arsip sosial budaya Surakarta. Sejak awal, posisinya berada di luar lingkar kekuasaan kolonial.

Berbeda latar, namun searah pilihan, tiga bersaudara Kobus tumbuh dalam keluarga sosialis di Belanda yang menentang kolonialisme sejak sebelum Perang Dunia II berakhir. Rumah keluarga mereka di Amsterdam dikenal sebagai tempat singgah pelaut dan aktivis Indonesia yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Fakta ini tercatat dalam penelitian sejarawan Hilde Janssen dan diperkuat oleh arsip sejarah lisan.

Pada 9 Mei 1946, Betsy, Annie, dan Miny Kobus menikah dengan pria Indonesia yang aktif dalam jaringan pergerakan kemerdekaan. Betsy menikah dengan Djumiran, Annie dengan Djabir, dan Miny dengan Amarie. Pernikahan tersebut tercatat secara resmi dan bukan sekadar kisah lisan yang berkembang kemudian.

Desember 1946, ketiga bersaudara Kobus bersama pasangan masing-masing berangkat ke Indonesia menggunakan kapal Weltevreden dari Rotterdam. Kapal ini tercatat dalam arsip pelayaran kolonial sebagai angkutan sipil dan militer ke Hindia Belanda pasca Proklamasi. Keberangkatan mereka berada di luar arus resmi pemerintah Belanda dan berada dalam pengawasan ketat. Rombongan tiba di Tanjung Priok pada 1 Januari 1947. Karena Jakarta masih dikuasai Belanda, perjalanan dilanjutkan ke Yogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia. Kehadiran mereka diterima oleh lingkungan pemerintahan Republik, sebagaimana tercatat dalam kesaksian lisan yang dihimpun peneliti sejarah perempuan dan revolusi.

Lihat Juga :  Agresi Militer Belanda I: Babak Berdarah di Awal Kemerdekaan Indonesia

Ketika Agresi Militer Belanda pertama meletus pada 21 Juli 1947, keempat perempuan ini berada di wilayah konflik. Annie dan Miny terlibat aktif dalam Palang Merah Indonesia yang saat itu kekurangan tenaga. Betsy membantu layanan medis dan pengungsi di Jawa Timur. Dolly menetap di Surakarta dan terlibat dalam kegiatan sosial kemanusiaan. Di mata otoritas Belanda, posisi mereka jelas. Mereka dicap sebagai pengkhianat. Dalam korespondensi pribadi dan kesaksian lisan, istilah verrader digunakan untuk menyebut mereka. Hubungan dengan keluarga di Belanda banyak yang terputus. Tekanan interogasi dan kecurigaan terhadap Betsy Kobus tercatat dalam sejarah lisan perempuan Eropa yang berpihak pada Republik, meski tidak pernah berujung pada dakwaan hukum formal.

Lihat Juga :  Menyingkap TP-Ajax dan Runtuhnya Demokrasi Iran Tahun 1953

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada Desember 1949, keempatnya tidak kembali menetap di Belanda. Dolly Zegerius menghabiskan hidupnya di Solo hingga wafat pada 18 September 2019. Betsy menetap di Banyuwangi. Annie dan Miny melanjutkan keterlibatan dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan di Indonesia. (wrd)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos