Drama Politik SBY dan Surya Paloh Kembali Terungkap, Akademisi Soroti Dampaknya bagi Bangsa

JAKARTA | Priangan.com – Dinamika hubungan antartokoh politik nasional kembali menjadi sorotan publik. Sejarah politik Indonesia mencatat, relasi elite kerap diwarnai konflik kepentingan, perebutan pengaruh, hingga putusnya komunikasi politik. Mulai dari perbedaan prinsip antara Soekarno dan Mohammad Hatta, rivalitas Soekarno–Soeharto, hingga relasi rumit tokoh-tokoh era reformasi.

Salah satu hubungan politik yang kerap diperbincangkan adalah relasi antara Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Keduanya dikenal pernah memiliki kedekatan politik, namun kemudian mengalami keretakan yang hingga kini masih menjadi bahan spekulasi publik.

Mantan kader Partai NasDem, Zulfan Lindan, politisi asal Aceh sekaligus mantan anggota DPR RI, mengungkap sisi lain hubungan SBY dan Surya Paloh. Menurutnya, pada masa lalu hubungan kedua tokoh tersebut terbilang sangat dekat.

“Pernah ada masa hubungan mereka begitu mesra. Surya Paloh bahkan menyediakan satu ruangan khusus untuk SBY di kantornya,” ungkap Zulfan Lindan dalam sebuah pernyataan.

Namun, relasi tersebut mulai merenggang ketika SBY menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Zulfan menyebut, keputusan politik SBY kala itu menjadi titik balik yang membuat hubungan dengan Surya Paloh memburuk.

Meski demikian, Zulfan menilai hubungan kedua tokoh seharusnya tidak benar-benar terputus. Menurutnya, dalam politik nasional, figur sekelas SBY dan Surya Paloh memiliki kepentingan strategis yang saling terkait.

Hubungan politik keduanya kembali mencuat menjelang Pemilihan Presiden 2024, khususnya terkait pembentukan pasangan calon presiden dan wakil presiden. Zulfan Lindan menyinggung isu mengapa Anies Baswedan tidak dipasangkan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Surya Paloh punya kekhawatiran tersendiri. Ada perasaan takut AHY akan mengulangi pola seperti SBY, yang menurut beliau bisa melupakan teman ketika sudah berada di puncak kekuasaan,” kata Zulfan.

Lihat Juga :  Tak Menang Pilkada, PKB dan NasDem Tegaskan Tak Akan Jadi Oposisi

Isu relasi elite politik ini juga mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Akademisi Universitas Islam KH Ruhiat Cipasung, Muiz Muhammad, menilai hubungan antartokoh politik besar seharusnya tetap dijaga demi kepentingan bangsa.

Lihat Juga :  Ekonomi Lesu di Pasar Tradisional: Pedagang dan Pembeli Sama-Sama Tersandera Harga Pangan

“Hubungan politik antara tokoh-tokoh besar tidak semestinya berhenti hanya karena perbedaan kepentingan sesaat. Mereka memiliki pengaruh besar terhadap arah demokrasi dan kemajuan bangsa,” ujarnya.

Muiz menegaskan, kualitas demokrasi nasional sangat dipengaruhi oleh cara elite politik membangun komunikasi dan relasi. Konflik berkepanjangan antartokoh dinilai hanya akan memperdalam polarisasi di tengah masyarakat.

“Bangsa ini sulit tumbuh jika tokoh-tokohnya terus terjebak dalam relasi politik yang buruk. Politik seharusnya menjadi sarana membangun, bukan memutus,” pungkasnya.

Hubungan SBY dan Surya Paloh menjadi contoh nyata bagaimana dinamika elite politik nasional tidak pernah lepas dari kepentingan, persepsi, dan sejarah panjang relasi kekuasaan. Publik pun terus menanti, apakah komunikasi politik di antara para tokoh bangsa ini akan semakin mencair atau justru kembali membeku. (Rco)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos