Dari Amplop Sampai ‘Mie Instan Politik’, Oleh Saleh Bongkar Borok Pemilu

TASIKMALAYA | Priangan.com – Anggota DPR RI, H Oleh Saleh, melontarkan kritik keras terhadap wajah demokrasi Indonesia yang dinilainya semakin kehilangan substansi. Menurutnya, akar persoalan bukan sekadar regulasi pemilu atau sistem politik, melainkan budaya masyarakat yang sudah terlanjur permisif terhadap praktik politik uang.

“Rakyat kita terlalu dimanjakan dengan politik amplop. Dari Rp50 ribu, Rp100 ribu, sampai paket sembako, bahkan ada yang saya sebut ‘mie instan politik’. Ini yang membuat rakyat abai terhadap gagasan, visi, dan rekam jejak calon pemimpin,” kata Oleh Soleh dalam Podcas Priangan.com beberapa waktu lalu.

Ia menilai praktik itu tidak hanya merusak integritas calon, tetapi juga membunuh harapan lahirnya pemimpin yang berkualitas. Demokrasi yang seharusnya menjadi arena adu gagasan, kata Oleh, telah berubah menjadi ritual lima tahunan yang penuh biaya, namun miskin substansi.

“Selama budaya money politic ini dianggap biasa, jangan pernah berharap kita punya pemimpin yang lahir dari ide besar. Yang lahir justru pemimpin instan, seperti mie instan: cepat jadi, tapi tidak bergizi,” sindirnya.

Oleh menambahkan, dampak dari budaya permisif ini bisa dirasakan langsung setelah pemilu usai. Banyak kepala daerah atau anggota legislatif lebih sibuk mengembalikan modal kampanye ketimbang bekerja untuk rakyat. Akibatnya, kebijakan publik sering kali hanya berorientasi pada proyek dan rente politik.

“Ini sudah jadi lingkaran setan. Rakyat menerima uang, calon keluar biaya besar, lalu setelah terpilih mencari cara balik modal. Demokrasi akhirnya hanya menjadi pesta transaksional, bukan ruang melahirkan kebijakan berkualitas,” tegasnya.

Menurut Oleh, upaya perbaikan demokrasi tidak cukup hanya mengubah aturan main pemilu. Lebih penting adalah mengubah mindset masyarakat agar berani menolak uang dan memilih berdasarkan gagasan.

Lihat Juga :  Figur Bayangan di Balik Kursi Wali Kota: Siapa 'Ibu Suri' dan 'Luhud' Versi Tasik?

“Kalau rakyat berani menolak Rp50 ribu dan memilih dengan nurani, saya yakin kita bisa lahirkan pemimpin hebat. Tapi kalau masih terjebak amplop, jangan salahkan kalau hasilnya demokrasi mahal dan murahan,” pungkasnya. (yna)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos