Cecep Nurul Yakin Naik Budiman, Nostalgia Biasa atau Sinyal Politik Baru?

TASIKMALAYA | Priangan.com – Pilihan Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin pulang menggunakan PO Budiman menuai sorotan. Di tengah kuatnya jejaring politik dan bisnis transportasi di Tasikmalaya, langkah itu dinilai bukan sekadar urusan moda angkutan, tetapi bisa dibaca sebagai simbol.

Ketua Gerakan Ajengan Muda (GAM) Tasikmalaya, Hadist Munawir, menyebut publik wajar mempertanyakan makna di balik pilihan tersebut.

“Di Tasikmalaya ini, industri otobus bukan hanya bisnis transportasi. Ada relasi sosial dan bahkan politik yang sudah terbangun lama. Jadi ketika seorang kepala daerah memilih satu PO tertentu, tentu publik akan membaca lebih jauh,” ujar Hadist, Senin (2/3/2026).

Sebagaimana diketahui, Tasikmalaya merupakan basis sejumlah perusahaan otobus besar seperti PO Mayasari Bhakti, PO Primajasa, hingga PO Budiman. Beberapa pemilik atau keluarga besar perusahaan tersebut juga terlibat aktif di dunia politik.

Nama Viman Alfarizi yang merupakan bagian dari generasi Mayasari Bhakti Group, serta Amir Mahpud sebagai owner Primajasa dan Ketua DPD Gerindra Jawa Barat, menjadi bukti kuatnya irisan bisnis transportasi dan politik di daerah ini.

Hadist menegaskan, pihaknya tidak ingin berspekulasi berlebihan. Namun menurutnya, simbol di ruang publik memiliki makna.

“Kalau disebut nostalgia, ya sah-sah saja. Tapi masyarakat hari ini cerdas. Apalagi dalam konteks pasca-Pilkada, pilihan-pilihan seperti ini bisa ditafsirkan macam-macam. Apakah ini sekadar kenangan masa kuliah, atau ada pesan lain, itu yang jadi diskursus,” katanya.

Ia juga menyinggung soal efektivitas perjalanan. Dalam pemberitaan sebelumnya disebutkan Bupati Cecep menggunakan Whoosh, lalu taksi menuju Depok sebelum akhirnya naik bus. Menurut Hadist, sebagai pejabat publik, pilihan moda transportasi juga bisa menjadi contoh efisiensi anggaran dan gaya hidup sederhana.

“Kalau mau benar-benar menunjukkan keberpihakan pada rakyat dan semangat efisiensi, banyak opsi transportasi publik yang lebih terjangkau dan terintegrasi. Itu juga bagian dari pesan kepemimpinan,” ucapnya.

Lihat Juga :  Polres Tasikmalaya Rangkul Jurnalis, Sinergi Media Jadi Kunci Stabilitas Kamtibmas

Meski demikian, GAM memastikan tidak ingin memperkeruh suasana. Hadist hanya mengingatkan agar para pemimpin daerah menyadari bahwa setiap langkah di ruang publik akan selalu dibaca secara politis.

Lihat Juga :  Polres Tasikmalaya Rangkul Jurnalis, Sinergi Media Jadi Kunci Stabilitas Kamtibmas

“Di Tasikmalaya, bus bukan cuma kendaraan. Ia bagian dari sejarah, ekonomi, bahkan politik. Jadi wajar kalau publik bertanya: ini nostalgia, atau simbol check out?” tandasnya. (yna)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos