JAKARTA | Priangan.com – Pada Desember 1983, suasana menjelang Natal di Amerika Serikat berubah drastis. Toko-toko mainan yang biasanya identik dengan kegembiraan justru dipenuhi kerumunan orang dewasa yang saling dorong dan berebut barang. Rak-rak kosong dalam waktu singkat, suara teriakan terdengar di berbagai sudut, dan aparat toko kewalahan mengendalikan situasi. Di beberapa kota, kekacauan ini bahkan menyebabkan orang terluka. Semua keributan itu dipicu oleh satu boneka kain berwajah bulat bernama Cabbage Patch Kids.
Boneka ini bukan sekadar mainan. Ia dipasarkan sebagai “anak” yang harus diadopsi, lengkap dengan akta kelahiran, nama, dan formulir adopsi yang harus ditandatangani oleh pembelinya. Konsep tersebut membuat banyak orang tua merasa memiliki ikatan emosional yang kuat.
Cabbage Patch Kids perlahan berubah menjadi simbol kebahagiaan Natal. Ketika persediaannya semakin sulit didapat, simbol itu menjelma menjadi sumber kecemasan, bahkan kepanikan.
BBC mencatat bahwa kegilaan terhadap Cabbage Patch Kids mencapai titik ekstrem di Wilkes-Barre, Pennsylvania. Di sebuah toko serba ada, kerumunan pembeli menjadi tidak terkendali ketika persediaan boneka habis. Seorang perempuan mengalami patah kaki, empat orang lainnya terluka, dan seorang manajer toko terpaksa membawa tongkat baseball untuk menenangkan massa.
Insiden ini terasa berbeda dari demam mainan sebelumnya, seperti Rubik’s Cube atau skateboard, yang tidak pernah sampai menimbulkan korban luka serius.
Bagi banyak orang tua, kegagalan mendapatkan boneka tersebut terasa seperti kegagalan memenuhi janji kepada anak-anak mereka. Seorang ibu setempat, Patti Colachino, mengungkapkan kegelisahannya kepada media setelah terlambat mencapai konter mainan. Ia khawatir tidak tahu harus mengatakan apa kepada putrinya di pagi Natal nanti. Situasi ini, mencerminkan tekanan emosional besar yang muncul ketika Natal dipersempit maknanya menjadi soal hadiah yang harus ada.
Fenomena ini kemudian menjadi sorotan internasional. John Humphrys, pembaca berita BBC, menyebut kejadian tersebut sebagai contoh terbaru dari hiruk-pikuk belanja pra-Natal di Amerika Serikat. Namun, ia juga mencatat bahwa reaksi di Inggris cenderung lebih terkendali. Harga boneka yang mencapai sekitar £24 membuat tidak semua orang membelinya secara impulsif, meskipun tanda-tanda demam mulai terlihat.
BBC bahkan mengirim reporter Guy Michelmore ke Oxford Street, London, untuk mengamati reaksi masyarakat. Tanggapan orang dewasa bervariasi, dari biasa saja hingga komentar bernada bercanda.
Namun, setiap anak yang diperlihatkan boneka itu menunjukkan ketertarikan yang kuat. Seiring meningkatnya popularitas, rak-rak toko mainan di Inggris pun mulai kosong, meski belum sampai menimbulkan kekacauan seperti di Amerika.
Di balik fenomena besar tersebut terdapat sosok Xavier Roberts, seorang mantan mahasiswa seni berusia 28 tahun asal negara bagian Georgia. Sejak pertengahan 1970-an, Roberts telah membuat boneka kain secara manual yang ia anggap sebagai karya seni, bukan mainan biasa. Boneka-boneka awal ini ia beri nama Little People. Setiap karyanya dibuat satu per satu, diberi nama, dan ditandatangani langsung olehnya sebagai pencipta.
Gagasan Roberts tidak muncul begitu saja. Ia banyak terinspirasi oleh tradisi lokal di wilayah Appalachian, khususnya dari seorang seniman rakyat bernama Martha Nelson Thomas, yang dikenal membuat boneka bayi dari kain dengan gaya khas.
Hubungan antara inspirasi dan kepemilikan ide ini kemudian memicu sengketa hukum. Pada 1984, persoalan tersebut diselesaikan di luar pengadilan dengan kesepakatan yang tidak diumumkan ke publik.
Seiring meningkatnya minat terhadap Little People, Roberts tidak hanya menjual boneka, tetapi juga membangun pengalaman di sekitarnya. Ia mendirikan Babyland General Hospital, sebuah tempat yang dirancang menyerupai rumah sakit bersalin. Di sana, pengunjung dapat menyaksikan proses “kelahiran” boneka yang dibantu oleh staf berpakaian dokter dan perawat, lalu diminta mengucapkan sumpah adopsi sebelum membawa pulang “bayi” mereka.
Pendekatan yang tidak biasa tersebut menarik minat Coleco Industries, sebuah perusahaan mainan besar di Amerika Serikat. Pada 1982, Coleco mulai memproduksi boneka-boneka tersebut secara massal.
Nama Little People pun diganti menjadi Cabbage Patch Kids. Dengan dukungan promosi besar-besaran dan liputan media yang luas, boneka ini dengan cepat menjelma menjadi barang yang paling diburu menjelang Natal 1983.
Popularitas Cabbage Patch Kids kemudian melampaui dunia mainan dan memunculkan reaksi budaya tandingan. Salah satunya adalah kemunculan kartu koleksi Garbage Pail Kids, yang memparodikan boneka-boneka tersebut dalam bentuk gambar-gambar berlebihan dan cenderung menyeramkan. Kartu-kartu ini menuai kontroversi di sekolah-sekolah karena dianggap mendorong perilaku tidak pantas, hingga akhirnya harus diubah setelah digugat oleh pemegang hak cipta Cabbage Patch Kids.
Setelah mencapai puncak popularitas pada Natal 1983, demam Cabbage Patch Kids perlahan mereda. Seperti banyak tren mainan lainnya, ketertarikan publik menurun seiring munculnya mainan baru dan perubahan selera anak-anak.
Coleco Industries, perusahaan yang memproduksi Cabbage Patch Kids secara massal, mengalami kesulitan keuangan dan akhirnya bangkrut pada 1988. Hak produksi boneka tersebut kemudian berpindah tangan ke beberapa perusahaan lain, seperti Hasbro dan Mattel, meskipun tidak pernah lagi mencapai popularitas sebesar era awalnya.
Meski tidak lagi memicu kegilaan nasional, Cabbage Patch Kids tidak sepenuhnya menghilang. Boneka ini terus diproduksi dalam jumlah terbatas dan tetap memiliki basis penggemar setia, terutama di kalangan kolektor dan mereka yang tumbuh besar pada era 1980-an. Babyland General Hospital di Georgia pun masih beroperasi sebagai tempat wisata, mempertahankan konsep “adopsi” yang menjadi ciri khas sejak awal. (LSA)

















