Anak-anak Jadi Korban Terbanyak DBD di Kota Tasikmalaya, Dua Meninggal Dunia

TASIKMALAYA | Priangan.com – Lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD) kembali menghantui Kota Tasikmalaya. Sejak awal tahun hingga pertengahan Juli 2025, Dinas Kesehatan mencatat 471 warga terserang DBD, dengan dua orang meninggal dunia dan enam lainnya dirawat intensif di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk RSUD dr. Soekardjo.

Meski angka kasus terus bertambah, Dinas Kesehatan menilai masih banyak warga yang lengah terhadap potensi bahaya nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus DBD. Minimnya kesadaran menjaga kebersihan lingkungan disebut menjadi penyebab utama.

“Masih banyak warga yang mengabaikan kebersihan tempat penampungan air di rumah. Padahal itu tempat ideal nyamuk berkembang biak,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Uus Supangat saat dihubungi wartawan, Kamis (17/7/2025) pagi.

Dari data yang dihimpun Dinkes, kasus terbanyak terjadi pada kelompok usia anak-anak. Anak usia 6–12 tahun tercatat paling rentan, dengan 151 kasus. Disusul usia 0–5 tahun sebanyak 88 kasus, usia 13–18 tahun sebanyak 64 kasus, dan sisanya tersebar di kelompok dewasa hingga lansia.

Adapun sebaran berdasarkan jenis kelamin menunjukkan 251 perempuan dan 220 laki-laki menjadi korban serangan nyamuk DBD. Dari sisi waktu, Februari mencatat kasus tertinggi dengan 98 kasus, disusul April (79), Januari (75), dan bulan-bulan berikutnya relatif stabil namun tetap tinggi.

“Yang mengkhawatirkan, lonjakan ini terjadi di 22 kelurahan dari 69 yang ada, tersebar di 10 kecamatan. Artinya, ini bukan kasus lokal, tapi sudah meluas,” jelas Uus.

Ia menambahkan, curah hujan yang tinggi sejak awal tahun menjadi faktor pemicu meningkatnya tempat perindukan nyamuk. Namun, faktor lingkungan tetap menjadi kunci utama pengendalian.

Sebagai bentuk mitigasi, Dinkes terus menggalakkan gerakan satu rumah satu jumantik (G1R1J) serta menggencarkan edukasi tentang pentingnya penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Kegiatan fogging dilakukan hanya di area dengan kasus terkonfirmasi, sementara langkah utama tetap pemberantasan sarang nyamuk (PSN) berbasis partisipasi masyarakat.

Lihat Juga :  Ucapkan Selamat Harlah ke-101, Nurhayati Akui Kontribusi NU Begitu Besar untuk Negara

“Fogging itu solusi jangka pendek, yang jangka panjang itu membersihkan tempat penampungan air, menutup wadah, dan mengubur barang bekas. Prinsip 3M harus dijalankan konsisten, bukan saat musim hujan saja,” tegas Uus.

Lihat Juga :  Mangkrak Bertahun-tahun, Pembangunan Gedung Poliklinik RSUD dr. Soekardjo Siap Dilanjutkan

Dinas Kesehatan juga memperingatkan bahwa DBD tidak mengenal usia, dan bisa menyerang siapa saja. Karena itu, masyarakat diminta tidak menunggu jatuh korban baru bertindak.

“Kalau satu rumah bersih tapi lingkungan sekitar tidak peduli, tetap saja nyamuk akan berkembang. Ini masalah kolektif,” ujarnya.

Dengan cuaca yang masih tak menentu dan potensi hujan lokal, Uus menegaskan bahwa bulan-bulan ke depan tetap berisiko tinggi. Ia mengimbau agar warga tak menunggu angka kasus melonjak lebih tinggi untuk mulai peduli. (yna)

Lain nya

Latest Posts

Most Commented

Featured Videos