TASIKMALAYA | Priangan.com – Puluhan mahasiswa dari berbagai organisasi dan komunitas di Kota Tasikmalaya kembali menggelar Aksi Kamisan, Kamis (26/2/2026). Dalam momentum tersebut, mereka secara terbuka menyoroti dugaan praktik represivitas aparat, baik kasus lama yang belum tuntas maupun peristiwa terbaru yang memicu perhatian publik.
Aksi dimulai dengan long march dari kawasan Masjid Agung Kota Tasikmalaya menuju Alun-alun. Sepanjang jalan protokol, massa membawa poster dan membentangkan pesan-pesan kritik, disertai orasi yang menyinggung berbagai dugaan pelanggaran kemanusiaan. Salah satu isu yang disuarakan adalah kasus terbaru yang melibatkan oknum anggota Brimob hingga menyebabkan meninggalnya seorang anak.
Koordinator lapangan aksi, Desta Kurniawan, menegaskan bahwa Aksi Kamisan bukan sekadar rutinitas simbolik, melainkan bentuk konsistensi sikap mahasiswa dalam mengawal isu kemanusiaan.
“Kami turun ke jalan bukan untuk mencari sensasi, tapi untuk menyuarakan keresahan. Banyak kasus represivitas aparat, baik di masa lalu maupun yang terbaru, yang harus dikawal agar tidak hilang begitu saja tanpa kejelasan hukum,” ujarnya saat mimbar bebas di Alun-alun Kota Tasikmalaya.
Ia menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam setiap penanganan perkara yang melibatkan aparat penegak hukum. Menurutnya, keadilan tidak boleh berhenti pada proses internal, tetapi harus terbuka dan bisa diuji publik.
“Setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan dan keadilan yang sama di mata hukum. Jika ada pelanggaran, harus diproses secara terang dan adil,” tegasnya.
Peserta aksi lainnya, M. Muksin, menyebut keterlibatannya didorong oleh empati terhadap para korban dan keluarga yang terdampak. Ia menilai, tanpa tekanan publik, banyak kasus berpotensi tenggelam seiring waktu.
“Kami tidak ingin kasus-kasus kekerasan hanya ramai sesaat lalu dilupakan. Aksi ini adalah cara kami menjaga ingatan kolektif agar keadilan tidak berhenti pada pemberitaan,” katanya.
Senada, Ajril Rivan menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pendekatan represif dalam penanganan berbagai persoalan di lapangan. Ia menilai pembenahan institusi harus dilakukan secara serius untuk mencegah korban sipil kembali berjatuhan.
“Kepercayaan publik hanya bisa dibangun jika ada keberanian menindak pelanggaran tanpa pandang bulu. Proses hukum harus transparan, bukan sekadar formalitas,” ujarnya.
Setibanya di Alun-alun Kota Tasikmalaya, aksi dilanjutkan dengan mimbar bebas, pembacaan puisi, serta refleksi atas berbagai peristiwa kekerasan yang dinilai mencederai rasa keadilan masyarakat. Mahasiswa juga mengajak warga untuk lebih kritis dan tidak apatis terhadap isu-isu kemanusiaan.
Menjelang waktu berbuka puasa, aksi ditutup dengan pembagian takjil kepada masyarakat sekitar. Bagi para mahasiswa, solidaritas sosial di bulan Ramadan menjadi simbol bahwa perjuangan menuntut keadilan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap sesama. (ags)

















