ATHENA | Priangan.com – Tidak ada sosok pahlawan yang lebih legendaris dalam mitologi Yunani selain Achilles, seorang pejuang tak terkalahkan yang mengukir namanya dalam sejarah Perang Troya. Namun, di balik ketangguhan dan keberaniannya, tersembunyi takdir tragis yang menjadikan kisah hidupnya salah satu yang paling dikenang dalam sastra dan budaya barat. Dikenal sebagai pahlawan utama dalam “Iliad” karya Homer, perjalanan Achilles adalah cerita tentang kekuatan, kemarahan, dan kelemahan manusiawi yang tak terhindarkan.
Achilles adalah putra dari Peleus, raja suku Myrmidon, dan Thetis, seorang peri laut. Sejak lahir, ia telah diprediksi akan memiliki nasib yang luar biasa, namun juga penuh dengan tantangan. Ibunya, yang berusaha melindunginya dari kematian yang diperkirakan akan datang, membawanya ke Sungai Styx. Dengan mencelupkannya ke dalam air yang dianggap memiliki kekuatan untuk memberikan keabadian, Thetis berharap dapat melindungi tubuh Achilles dari segala bahaya. Namun, karena Thetis memegang tumitnya saat mencelupkannya, hanya bagian tersebut yang tidak kebal, menjadikannya titik lemah Achilles yang kelak menjadi penyebab kematiannya.
Kehidupan Achilles tak pernah bisa terlepas dari Perang Troya, sebuah konflik besar yang melibatkan bangsa Yunani melawan kota Troya. Saat perang dimulai, Achilles bergabung dengan pasukan Yunani, dan dengan segera reputasinya sebagai prajurit yang hampir tak terkalahkan tersebar luas. Namun, meskipun dikenal sebagai pejuang hebat, Achilles juga dikenal karena sifat keras kepalanya. Ketika Agamemnon, pemimpin pasukan Yunani, merampas Briseis, seorang wanita yang dihormati oleh Achilles, hal ini menyebabkan perselisihan antara keduanya. Achilles, yang merasa dihina, memilih untuk menarik diri dari pertempuran, yang kemudian berakibat buruk bagi pasukan Yunani, yang mulai kalah beruntun tanpa kehadiran pahlawan mereka.
Dalam ketidakhadirannya, sahabat terdekat Achilles, Patroclus, mengenakan baju zirah miliknya dan turun ke medan perang. Patroclus tewas di tangan Hector, pangeran Troya, yang membuat Achilles kembali ke pertempuran untuk membalas dendam. Dengan amarah yang membara, ia membunuh Hector dan menyeret tubuhnya di belakang keretanya sebagai penghinaan terhadap musuhnya. Kematian Hector menjadi titik balik dalam perang, namun bagi Achilles, harga yang harus dibayar atas kemarahan dan kesombongannya sangatlah tinggi.
Kematian Achilles pun tidak kalah epik. Meski perang terus berlangsung, takdir Achilles akhirnya menuntutnya pada saat yang tidak terduga. Achilles jatuh hati pada Polyxena, putri raja Priam, yang memanfaatkan perasaan tersebut untuk menjebak Achilles. Ketika ia mendekat ke altar untuk memberikan kurban di kuil Apollo, Paris, saudara Hector, yang bersembunyi di balik altar, menembakkan panah beracun yang menembus tumit Achilles. Dengan satu serangan yang mematikan pada titik terlemahnya, Achilles pun tewas, memenuhi ramalan yang telah ditentukan sejak lama. (Ersuwa)